MUTER-MUTER DI ALKAFIRUN



Dua anak kiyai saling dorong menjadi imam sholat. Biasanya sang adik menggantikan abahnya jika beliau berhalangan. Sang kakak waktu itu baru pulang dari Mesir setelah menyelesaikan S2-nya. Walaupun sudah S2 dan pernah menjuarai lomba qiraah se Jawa timur ia tidak pernah menjadi imam sholat dengan makmum yang banyak dan sudah lama tidak membaca quran di hadapan orang banyak seperti saat lomba. Sedangkan adiknya yang hanya lulusan pesantren salaf ia sering ditunjuk menjadi imam sholat di pesantrennya, dulu. Sang kakak menolak permintaan adiknya dengan alasan belum terbiasa. Alasan ini awalnya bisa diterima.

Setelah beberapa hari adiknya tidak mau lagi menjadi imam sholat selama masih ada kakaknya. Adiknya juga beranggapan bacaan kakaknya lebih bagus darinya. Kakaknya yang selalu menolak akhirnya luluh juga. Ia terpaksa, dengan berat hati mencoba memberanikan diri, menjadi imam sholat di Masjid penuh jemaah itu. Adapun adiknya, menjadi makmum di belakangnya.

Rokaat pertama ia selesaikan dengan sempurna dan hanya membaca surat pendek. Rokaat kedua ia juga mencoba membaca surat pendek dan dia memilih surat alkafirun. Inilah awal musibah terjadi. Dalam surat alkafirun terapat dua ayat yang sama. Gugup dan gerogi membuat dia lupa . Ia berputar-putar dalam suroh itu. Berikut kutipan bacaanya:


"kul ya ayyuhal kafirun..
La a'budu ma ta' budun...
Wala antum abiduna ma a'bud..
Wala ana abidun ma abadtum..
Wala antum abiduna ma a'bud..
Wala ana abidun ma badtum..
Wala ntum abiduna ma a'bud..
Wala ana abidun ma absdtum..
Walan antum abidun a ma a'bud.."

Begitulah seterusnya. Sampai pada akhirnya mencpai puncak kessel karena tak "mari-mari". Akhirnya dengan mengejutkan, sang kakak membalikkan badan dan berteriak di telinga adiknya, "sudah ku bilang, saya tidak siapppppppppp". Para jemaah kaget. Banyak yang membatalkan sholatnya, tapi ada juga yang menruskan.

Sahabat santri...Ternyata pengalaman praktik itu jauh lebih dibutuhkan dari pada teori. Rasa gerogi memang bisa membuat kita lupa. Apalagi bacaan yang jarang kita baca, bacaan yang sering kita baca pun juga bisa lupa. Ini bukan omong kosong. Saya punya teman yang mengalami hal tersebut. Menjadi imam pertama kalinya di tempat dia mengabdi, dia lupa bacaan ketika kita mau naik dari sujud: apakah samiallohhu liman hamidah atau subhanarobbiyal a'la wabihamdihi. Dan ternyata dia memutuskan membaca samiallohu liman hamidah....bayangkan sahabat!!! Bacaan seperti ini justru bisa puluhan kali kita lakukan setiap hari, tapi masih bisa lupa.

Banyak hikmah yang bisa diambil dari cerita di atas. Sahabat tidak perlu mempertimbangkan fiktif atau tidak, selama sebuah kisah bisa menjadi inspirasi baik bagi kita. Cerita di atas memang hanya karangan admin saja. Cerita ini dikutip dari cerita-cerita di kalangan santri yang sudah tidak bisa dilacak sumbernya. Walaupun admin pernah mendengar bahwa cerita yang mirip diatas itu faktual.

bagi sahabat santri yang mempunyai pengalaman unik dan lucu silahkan share melalui blog ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar