Tampilkan postingan dengan label humor. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label humor. Tampilkan semua postingan

PENGALAMAN HARI PERTAMA MENGAJAR MURID PEREMPUAN


Tanpa belajar bahasa Inggris orang inggris bisa bicara menggunakan bahasa Inggris. Begitu juga dengan orang Indonesia, kita bisa berbicara bahasa Indonesia dengan lancar dan dengan kaidah umum yang tidak pernah kita pelajari. Kok bisa?? Karena kabiasaan mendengar dan membuat kalimat, secara tidak langsung membentuk kaidah/teori bahasa yang tertanam di alam bawah sadar. Misalnya, kata sifat jika akan dibetuk menjadi sebuah objek bermakna "tentang" akan diberi imbuhan "ke" dan "an". Contoh : Aman menjadi keamanan, mau menjadi kemauan,  lalai menjadi kelalaian, sadar menjadi kesadaran. Misalnya juga, ketika orang Madura kekurangan istilah dalam berbahasa Madura maka ia akan menggunakan bahasa luar yang di-Madurakan. Banyak kata dalam bahasa Indonesia yang mirip dengan bahasa Madura. Entah itu kebetulan mirip atau orang Madura yang mengkonversinya. Tapi menurut kami secara umum memang aslinya sama, namun sebagian memang hasil konversi. Dalam mengkonversi, misalnya, orang secara tidak langsung mempunyai aturan : huruf "W" dari bahasa luar jika di-madurakan menjadi "B" dan huruf "A" menjadi "E". Contoh : warung menjadi berung, lewat menjadi lebet, rawat menjadi rabet, Bawean menjadi Bebien, Jawa menjadi Jebeh. Tanpa harus diberi tau aturan seperti ini orang Madura dengan reflek akan akan mengkonversinya dengan aturan yang tertanam dalam alam bawah sadarnya.

Tapi tidak semua kaidah alami seperti itu bisa dibenarkan. Terbukti banyak koreksi tentang kesalahan penggunaan bahasa Indonesia dari pakar bahasa Indonesia yang justru ditemukan akhir-akhir ini,walaupun terkadang para pakar terlalu lebay dalam koreksinya..(he..he..he..maaf berbercanda. Insya Alloh kami akan membuat artikel tentang kritik ini). Hal ini bisa dapat kita lihat ketika orang baru belajar bahasa asing. Orang jawa yang baru belajar berbahasa Madura akan mengatakan jerebet untuk jerawat, dan kabet untuk kawat. Sedangkan yang benar adalah jerebe' dan kabe'. Kesalahan-kesalahan ini bagi santri tidak begitu penting selama tidak mengurangi esensi pembeicaran. Tapi kesalahan seperti ini bisa berakibat fatal seperti depresi, jantungan, bahkan kematian.

Inilah yang terjadi pada teman saya. Ini cerita dia ketika mengajar perdana santri putri yang sudah besar. Ia sangat takut dengan makhluk yang bernama perempuan. Ya,,dia hidup di lingkungan pesantren yang ketat dengan aturan interaksi antara laki-laki dan perempuan. Dan di tempat mengabdinya yang sekarang, dia akan sering bertemu dengan makhlus halus ini.

Saya sebut saja nama teman saya itu Endin (nama samaran). Pertama kali mengajar murid perempuan wajahnya dipenuhi keringat dingin yang seakan keluar dari tiap helai rambutnya. Dengan suara yang sedikit gemetar tampak gerogi di balik kepala yang menunduk. Bermaksud untuk menghilangkan gerogi Endin pun ingin memberi tahu kepada murid-muridnya kalau dia memang pemalu. Sambil senyum ia mengatakan,

"saya memang besar kemaluannya. Saya juga tidak biasa mengajar perempuan" dan "bla.bla..bla..." tanpa sadar ada yang salah, ia melanjutkan pembicaraan.

Murid-muridnya tersenyum. Endin tambah bingung dan merasa ada redaksi yang salah. Ia mencari-cari. Ia pun menemukan letak salah itu dan meralatnya,

"saya orangnya memang pemalu", dengan diulang berkali-kali sebagai penegasan kalau redaksi pertama salah.

Cerita ini ia sampaikan pada saya. Awalnya saya kira ia bercanda pada saya. Tapi cerita ini sudah dikonfirmasi sama ustadeh kepada santri putri.

Belum jelas apakah ini kesalahan dalam kaidah berbahasa Indonesia atau berbaha Madura. Tapi kalau saya lihat, banyak orang Madura yang kecoplasan seperti itu. Saya lebih menganggap ini sebuah kesalahan dalam konversi bahasa.

Bagi yang bersangkutan mohon dikoreksi jika ada yang salah dari cerita di atas.
Atau jika tidak berkenan dengan publikasi cerita ini, silahkan komplain. Insya Alloh akan kami hapus.

Dan bagi sahabat santri yang mempunyai pengalaman unik dan lucu, silahkan share melalui blog ini..

ALIF LAM RO



Sincan mengikuti tes masuk fakultas agama di salah satu perguruan tinggi ternama di Indonesia. Salah satu materi tes adalah baca alquran. Sincan memang sudah lancar baca alquran namun ia jarang membaca alquran. Ia belajar alquran sebatas bisa baca abatatsa saja dan tidak pernah belajar ilmu agama lagi. Ia memilih fakultas agama karena dianggapnya paling murah dan lebih memungkinkan untuk diterima.

Sincan tidak pernah merasa ada kesulitan dalam membaca alquran. Ia sudah memperkirakan dirinya mampu melewati tes ini dengan memuaskan. Ia lupa dengan fawatihussuwar yang jarang ia baca. Fawatihus suwar yang hanya terdiri dari beberapa huruf itu memang jarang diperhatikan banyak orang. Bagi mereka yang belum pernah hatam alquran atau hanya hatam pada waktu kecil saja, kemungkinan mereka akan lupa cara membacanya.

Dan ternyata Sincan mendapatkan suroh yang ada "alif lam ro" dalam tesnya. Sincan memulainya dengan taawwudz dan basmalahnya yang fasih. Selanjutnya sincan terdiam dengan keringat membasahi keningnya. Dia bingung dengan cara membaca huruf-furuf tidak berharokah itu. Tapi dia harus ambil keputusan untuk tetap bersuara atau membacanya. Dengan suara pelan dia membaca, "ular". Terasa kurang, tim penguji menyuruhnya mengulangi bacaannya, "ulangi. tidak jelas". Dengan suara agak keras sincan membaca, "ular". Sincan sadar bacaan salah. Sincan kesal karena harus mengulangnya. Dia pikir seharusnya dia tidak perlu disuruh mengulang, cukup diberi nilai saja. Mungkin bermaksud menjadikan bahan lelucon, tim penguji menyuruhnya mengulangi lagi. Dan kali ini Sincan dengan teriak membaca kalimat itu disertai cacian dan sumpah-serapahnya :

"ular..ular...ular..gak dengar telinganya. Sudah kubilang ular...ular,,Jangan jadi tim penguji kalau budek. Sudah, saya tidak mau kuliah disini..ular..ular ular gak dengar mulai tadi"


bagi sahabat santri yang mempunyai pengalaman unik dan lucu silahkan share melalui blog ini..

NELAYAN MADURA DI TANGKAP POLISI KOREA



Sering kita dengar berita tentang nelayan Indonesia yang ditangkap polisi kelautan negara-negara tetangga. Kali ini ada cerita lucu dari pulau garam Madura. Orang madura memang dikenal polos, apa adanya, dan terlalu percaya diri. Bahkan, mereka bisa membantah polisi tanpa harus membuatnya marah.

Ketika pak Kardiman melaut untuk mencari ikan, ia bersama rombongannya tidak sadar kalau mereka sudah masuk teritorial laut Korea Selatan. Mereka merasa masih dalam kawasan Indonesia, antara Sulawesi atau Tarakan. Tapi disinilah mereka bisa mendapatkan ikan yang banyak sekali; di negeri orang. Mungkin di negeri sendiri sudah habis ikannya dicuri orang asing.

Ketika kapal sudah penuh dengan ikan dan mau dibawa pulang atau dijual ditengah (di madura biasanya ada kapal milik perusahaan pengolah ikan yang biasa membeli ikan hasil tangkapan mereka), tiba-tiba polisi korea datang menghampiri kapal Pak Kardiman. Pak Kardiman dan para awaknya kaget. Mereka merasa tidak punya salah. Salah satu dari polisi itu ada yang bisa bahasa indonesia. Mungkin ini bagian dari program mereka menyediakan transliter banyak bahasa. Sebagai kapten kapal pak Kardiman bertanya pada polisi :

Kardiman : ada apa Pak??
Polisi : Kalian telah masuk wilayah kami.
Kardiman : wah..!! Ini bukannya masih Indonesia, pak..?
Polisi : bukan, ini korea selatan. Kalian saya tahan dan ikannya kami sita.

Kardiman dengan polos dan wajah seperti orang tak punya salah menjawab,

"pak, kami boleh ditangkap tapi ikan kami tidak boleh bapak sita. Ini adalah ikan Madura yang lari dan kami kejar sampai kesini. Wilayah ini memang wilayah Korea, tapi ikannya ikan Madura", dengan dialek Maduranya..

Polisi kebingungan dan pusing empat keliling berbicara dengan Kardiman. Akhirnya pak Kardiman dibolehkan pulang bersama ikan-ikannya..

PENGALAMAN HARI PERTAMA MENGAJAR MURID PEREMPUAN

 
 
Tanpa belajar bahasa Inggris orang inggris bisa bicara menggunakan bahasa Inggris. Begitu juga dengan orang Indonesia, kita bisa berbicara bahasa Indonesia dengan lancar dan dengan kaidah umum yang tidak pernah kita pelajari. Kok bisa?? Karena kabiasaan mendengar dan membuat kalimat, secara tidak langsung membentuk kaidah/teori bahasa yang tertanam di alam bawah sadar. Misalnya, kata sifat jika akan dibetuk menjadi sebuah objek bermakna "tentang" akan diberi imbuhan "ke" dan "an". Contoh : Aman menjadi keamanan, mau menjadi kemauan,  lalai menjadi kelalaian, sadar menjadi kesadaran. Misalnya juga, ketika orang Madura kekurangan istilah dalam berbahasa Madura maka ia akan menggunakan bahasa luar yang di-Madurakan. Banyak kata dalam bahasa Indonesia yang mirip dengan bahasa Madura. Entah itu kebetulan mirip atau orang Madura yang mengkonversinya. Tapi menurut kami secara umum memang aslinya sama, namun sebagian memang hasil konversi. Dalam mengkonversi, misalnya, orang secara tidak langsung mempunyai aturan : huruf "W" dari bahasa luar jika di-madurakan menjadi "B" dan huruf "A" menjadi "E". Contoh : warung menjadi berung, lewat menjadi lebet, rawat menjadi rabet, Bawean menjadi Bebien, Jawa menjadi Jebeh. Tanpa harus diberi tau aturan seperti ini orang Madura dengan reflek akan akan mengkonversinya dengan aturan yang tertanam dalam alam bawah sadarnya.

Tapi tidak semua kaidah alami seperti itu bisa dibenarkan. Terbukti banyak koreksi tentang kesalahan penggunaan bahasa Indonesia dari pakar bahasa Indonesia yang justru ditemukan akhir-akhir ini,walaupun terkadang para pakar terlalu lebay dalam koreksinya..(he..he..he..maaf berbercanda. Insya Alloh kami akan membuat artikel tentang kritik ini). Hal ini bisa dapat kita lihat ketika orang baru belajar bahasa asing. Orang jawa yang baru belajar berbahasa Madura akan mengatakan jerebet untuk jerawat, dan kabet untuk kawat. Sedangkan yang benar adalah jerebe' dan kabe'. Kesalahan-kesalahan ini bagi santri tidak begitu penting selama tidak mengurangi esensi pembeicaran. Tapi kesalahan seperti ini bisa berakibat fatal seperti depresi, jantungan, bahkan kematian.

Inilah yang terjadi pada teman saya. Ini cerita dia ketika mengajar perdana santri putri yang sudah besar. Ia sangat takut dengan makhluk yang bernama perempuan. Ya,,dia hidup di lingkungan pesantren yang ketat dengan aturan interaksi antara laki-laki dan perempuan. Dan di tempat mengabdinya yang sekarang, dia akan sering bertemu dengan makhlus halus ini.

Saya sebut saja nama teman saya itu Endin (nama samaran). Pertama kali mengajar murid perempuan wajahnya dipenuhi keringat dingin yang seakan keluar dari tiap helai rambutnya. Dengan suara yang sedikit gemetar tampak gerogi di balik kepala yang menunduk. Bermaksud untuk menghilangkan gerogi Endin pun ingin memberi tahu kepada murid-muridnya kalau dia memang pemalu. Sambil senyum ia mengatakan,

"saya memang besar kemaluannya. Saya juga tidak biasa mengajar perempuan" dan "bla.bla..bla..." tanpa sadar ada yang salah, ia melanjutkan pembicaraan.

Murid-muridnya tersenyum. Endin tambah bingung dan merasa ada redaksi yang salah. Ia mencari-cari. Ia pun menemukan letak salah itu dan meralatnya,

"saya orangnya memang pemalu", dengan diulang berkali-kali sebagai penegasan kalau redaksi pertama salah.

Cerita ini ia sampaikan pada saya. Awalnya saya kira ia bercanda pada saya. Tapi cerita ini sudah dikonfirmasi sama ustadeh kepada santri putri.

Belum jelas apakah ini kesalahan dalam kaidah berbahasa Indonesia atau berbaha Madura. Tapi kalau saya lihat, banyak orang Madura yang kecoplasan seperti itu. Saya lebih menganggap ini sebuah kesalahan dalam konversi bahasa.

Bagi yang bersangkutan mohon dikoreksi jika ada yang salah dari cerita di atas.
Atau jika tidak berkenan dengan publikasi cerita ini, silahkan komplain. Insya Alloh akan kami hapus.

Dan bagi sahabat santri yang mempunyai pengalaman unik dan lucu, silahkan share melalui blog ini..

BAJU DPR, SEPATU ATLET BOLA



Di pesantren salaf, sarung merupakan pakaian sehari-hari atau pakaian wajib santri. Bahkan di pesantren yang sudah ada sekolah formal-negara pun juga ada yang masih mewajibkan santri memakai sarung ketika sekolah. Walaupun begitu, biasanya santri kalau pas pulang atau keluar pondok banyak yang pakai celana. Tapi kalau saya, saya tetap lebih suka pakai sarung.

Kali ini saya mau bercerita tentang teman saya yang mulai sejak kecil ia terbiasa dengan sarung. Sebelum umur sepuluh tahun ia sudah dimasukkan ke pesantren oleh orang tuanya dan hingga kini ia tetap hidup di lingkungan pesantren. Ia mengabdi di dua tempat yang berbeda : tempat yang pertama di sebuah pesantren yang sarung masih menjadi pakaian utama, dan tempat yang kedua di pesantren semi modern dimana celana dan sepatu sudah menjadi tuntutan untuk dimiliki.

Ia termasuk orang yang sangat rapi dan disiplin. Semua pakaian, dari yang resmi hingga yang santai, ia memilikinya. Karena ia baru mengenal dunia luar, ia juga dituntut mempunyai SIM karena akses dia memang dengan birokrasi pemerintahan. Dan cerita lucu ini terjadi saat ia membuat SIM.

Pagi-pagi dia pamit pada saya mau pergi ke polres. Pakaiannya sangat rapi sekali mirip anggota DPR. Mungkin karena mau ke kantor polisi ia berfikir harus pakai sepatu, sedangkan dia tidak punya sepatu. Akhirnya ia memakai sepatu teman yang nganggur tidak terpakai di waktu pagi; sepatu yang biasa dipakai pada sore hari di tempat kami. Saat tiba di kantor polres dia menjadi pusat perhatian banyak mata. Dia tidak sadar dengan sebab itu. Baru setelah ada seorang polisi menyapanya, ia sadar kalau sepatu yang dia pakai tidak macing dengan bajunya.

"mau main sepak bola ya, mas?" tanya polisi.

Dengan senyum yang tulus dan polos dia bercerita pada polisi,

"gak pak. Ini saya minjam ke teman. Saya gak punya sepatu" dan "bla..bla...bla..bla..." semuanya ia jelaskan, walau bagi polisi itu tidak begitu menarik untuk di dengarkan.

Ternyata temanku tu pakai sepatu bola. Sedangkan bajunya baju kantoran. Kalau saja dia pakai baju olah raga; walupun bukan baju bola, mungkin masih bisa dimaklumi untuk tidak ditertawakan. Pemilik sepatu juga sempat heran ketika temanku izin minjam sepatunya, "buat apa dia pinjam sepatu bola, apa ada yang main bola sekarang?"

Bagi yang bersangkutan mohon dikoreksi jika ada yang salah dari cerita di atas.
Atau jika tidak berkenan dengan publikasi cerita ini, silahkan komplain. Insya Alloh akan kami hapus.
Bagi sahabat santri yang mempunyai pengalaman unik dan lucu silahkan share melalui blog ini..

MUTER-MUTER DI ALKAFIRUN



Dua anak kiyai saling dorong menjadi imam sholat. Biasanya sang adik menggantikan abahnya jika beliau berhalangan. Sang kakak waktu itu baru pulang dari Mesir setelah menyelesaikan S2-nya. Walaupun sudah S2 dan pernah menjuarai lomba qiraah se Jawa timur ia tidak pernah menjadi imam sholat dengan makmum yang banyak dan sudah lama tidak membaca quran di hadapan orang banyak seperti saat lomba. Sedangkan adiknya yang hanya lulusan pesantren salaf ia sering ditunjuk menjadi imam sholat di pesantrennya, dulu. Sang kakak menolak permintaan adiknya dengan alasan belum terbiasa. Alasan ini awalnya bisa diterima.

Setelah beberapa hari adiknya tidak mau lagi menjadi imam sholat selama masih ada kakaknya. Adiknya juga beranggapan bacaan kakaknya lebih bagus darinya. Kakaknya yang selalu menolak akhirnya luluh juga. Ia terpaksa, dengan berat hati mencoba memberanikan diri, menjadi imam sholat di Masjid penuh jemaah itu. Adapun adiknya, menjadi makmum di belakangnya.

Rokaat pertama ia selesaikan dengan sempurna dan hanya membaca surat pendek. Rokaat kedua ia juga mencoba membaca surat pendek dan dia memilih surat alkafirun. Inilah awal musibah terjadi. Dalam surat alkafirun terapat dua ayat yang sama. Gugup dan gerogi membuat dia lupa . Ia berputar-putar dalam suroh itu. Berikut kutipan bacaanya:


"kul ya ayyuhal kafirun..
La a'budu ma ta' budun...
Wala antum abiduna ma a'bud..
Wala ana abidun ma abadtum..
Wala antum abiduna ma a'bud..
Wala ana abidun ma badtum..
Wala ntum abiduna ma a'bud..
Wala ana abidun ma absdtum..
Walan antum abidun a ma a'bud.."

Begitulah seterusnya. Sampai pada akhirnya mencpai puncak kessel karena tak "mari-mari". Akhirnya dengan mengejutkan, sang kakak membalikkan badan dan berteriak di telinga adiknya, "sudah ku bilang, saya tidak siapppppppppp". Para jemaah kaget. Banyak yang membatalkan sholatnya, tapi ada juga yang menruskan.

Sahabat santri...Ternyata pengalaman praktik itu jauh lebih dibutuhkan dari pada teori. Rasa gerogi memang bisa membuat kita lupa. Apalagi bacaan yang jarang kita baca, bacaan yang sering kita baca pun juga bisa lupa. Ini bukan omong kosong. Saya punya teman yang mengalami hal tersebut. Menjadi imam pertama kalinya di tempat dia mengabdi, dia lupa bacaan ketika kita mau naik dari sujud: apakah samiallohhu liman hamidah atau subhanarobbiyal a'la wabihamdihi. Dan ternyata dia memutuskan membaca samiallohu liman hamidah....bayangkan sahabat!!! Bacaan seperti ini justru bisa puluhan kali kita lakukan setiap hari, tapi masih bisa lupa.

Banyak hikmah yang bisa diambil dari cerita di atas. Sahabat tidak perlu mempertimbangkan fiktif atau tidak, selama sebuah kisah bisa menjadi inspirasi baik bagi kita. Cerita di atas memang hanya karangan admin saja. Cerita ini dikutip dari cerita-cerita di kalangan santri yang sudah tidak bisa dilacak sumbernya. Walaupun admin pernah mendengar bahwa cerita yang mirip diatas itu faktual.

bagi sahabat santri yang mempunyai pengalaman unik dan lucu silahkan share melalui blog ini.

GEROGI SAAT AKAD MENIKAH



Pernikahan adalah momen sakral bagi banyak orang. Pada saat itu seorang akan melepas status lajang untuk selamanya. Rasa gugup saat pernikahan diakui banyak pengantin. Tidak sedikit pengantin yang mengangggap rasa gugup saat pernikahan itu aneh, karena kadang gugup datang walaupun kedua mempelai sudah saling mengenal lama. Rasa gugup ini yang membuat orang sering salah dalam melafadkan qobulnya.

Ada pemuda yang salah salah fatal dalam melafalkan qobulnya; entah itu reflek karena gugup atau memang karena tidak tau melafalkan qobul nikah. Berikut ini dialog ijab qobul yang terjadi pada waktu itu :


Wali : hai Endin..saya nikahkan anak saya, Endinah, padamu dengan mas kawin 2 gram di bayar kontan.
Endin : sah......

Undangan :................???????????

Dialog di atas hanya contoh saja. Kejadian ini bener2 terjadi,bahkan terekam kamera video. Silahkan cari di youtube!!!!

Ada juga cerita kesalahan seperti dari teman saya, entah itu fiktif atau nyata, dengan dialog seperti berikut :

Wali : hai Endin..saya nikahkan anak saya, Endinah, padamu dengan mas kawin 2 gram di bayar kontan.
Endin : Kontan.........



Sahabat santri sekalian,,,
Sebelum nikah sebaiknya kalian banyak bertanya kepada mereka yang mengalaminya, termasuk urusan malam pertama agar tidak mengecewakan banyak pihak.



Kepada yang bersangkutan, mohon dikoreksi jika ada yang salah dari cerita di atas.
Atau jika tidak berkenan dengan publikasi cerita ini, silahkan komplain. Insya Alloh akan kami hapus

bagi sahabat santri yang mempunyai pengalaman unik dan lucu silahkan share melalui blog ini..